Birth

shutterstock_90187366

Dear Readers,

Dalam perjalanan sebagai seorang destiny reader, saya sering sekali bertemu dengan klien yang skeptis degan seni yang telah diwariskan selama 4.000 tahun ini. Ada yang skeptis karena menganggap seni ini berkaitan dengan agama tertentu, ada yang menganggap bahwa seni ini adalah ramalan yang musyrik, dan yang paling sering saya temukan adalah kalangan intelektual yang tidak mempercayai Destiny karena mereka menganggap seni ini adalah sesuatu yang abstrak dan kebenaran nya tak dapat dipegang.

Pendapat-pendapat yang umum ini patut dihargai, karena manusia dengan pikiran nya yang kritis lah mampu menggapai berbagai kemajuan. Dan ketidakpercayaan tersebut juga muncul dikarenakan banyak nya oknum yang dalam mempraktekkan seni destiny reading, menyampaikan hal-hal yang tak masuk akal, yang semakin membuat orang alergi terhadap kebenaran seni ini. Jika pada zaman para leluhur silsilah terdahulu saya, tantangan yang ada adalah berlomba-lomba dalam meriset dan memperdalam ilmu dengan sesama rekan profesi. Namun di jaman sekarang, tantangan yang terbesar adalah dalam mengedukasi kepada orang awam, tentang apa sesungguh nya destiny reading itu.

Namun semakin intelek mereka, akan semakin mudah bagi mereka untuk memahami apa sesungguh nya seni Destiny reading ini setelah mendapatkan penjelasan. Mereka akan mampu menangkap dan mengerti bahwa destiny reading bukanlah agama, aliran kepercayaan, mistis maupun ramalan yang tak berdasar. Destiny reading adalah sebuah system ilmu pengetahuan yang dapat diibaratkan sebagai statistika, mempelajari pattern sebuah kejadian, memetakan nya, untuk kemudian memprediksi kejadian berikutnya berdasarkan pattern tersebut. Tidak ada beda nya dengan ramalan cuaca. Jika setiap orang bisa menerima ramalan cuaca, hanya beda nya, praktisi cina kuno bukan memprediksi kejadian sehari, seminggu berikutnya, namun kejadian seumur hidup, dari lahir sampai mati. Jika ramalan cuaca bisa diterima sebagai sebuah cabang ilmu, maka demikian pula dengan destiny reading.

Namun setelah mereka mengakui keberadaan destiny reading, kemudian Salah satu hal yang paling sering dipertanyakan kepada saya adalah, “Jika benar waktu kelahiran seseorang dapat menentukan kehidupan nya seumur hidup. Bukankah kita bisa berbuat curang dan menentukan waktu kelahiran dengan metode bedah Cesar?” Kemudian biasa nya mereka akan menambahkan, “JIka benar demikian, bukankah tidak akan ada lagi orang miskin atau yang bernasib buruk di dunia ini?”

Jawaban nya hanya ada satu, yaitu jodoh. Karena metode kelahiran Cesar juga dianggap sah oleh alam semesta, sehingga waktu ketika sang bayi keluar dan meneriakkan tangis pertama, saat itu pula waktu kelahiran tercatatkan dan chart bazi nya terpetakan. Namun baik buruk nya, sungguh bergantung kepada jodoh si orang tua dan anak tersebut. Banyak orang yang berniat mencari tanggal bagus, namun karena tiada jodoh akan bertemu dengan praktisi yang tidak qualified (saya banyak bertemu kasus seperti ini). Banyak pula orang yang meski telah bertemu praktisi yang qualified, namun pada akhir nya tak berjodoh dikarenakan kelahiran nya berlangsung premature, atau terjadi halangan lain yang membaut tidak memungkinkan mengambil tanggal dan jam tersebut. Jadi factor jodoh sungguh berpengaruh dalam pencarian sebuah tanggal cesar. Namun jika anak anda adalah satu dari sekian banyak orang yang ditakdirkan berjodoh ini, maka tentu ia akan mendapatkan kehidupan yang baik ke depan nya sesuai aturan dan pemetaan ba zi.

Cerita kali ini berawal ketika saya berpindah kembali ke kota Medan, untuk mempersiapkan kelahiran anak kedua. Karena telah lama saya tidak menginjak kota Medan, maka kepulangan saya tersebut diserbu oleh banyak nya kesibukan oleh para klien yang memanfaatkan kesempatan itu. Hal ini membuat istri harus berkonsultasi sendiri ke dokter kandungan, untuk mengetahui due date kelahiran dari sang bayi. Sepulang nya dari dokter kandungan, saya pun diberitahukan, bahwa due date sang bayi adalah tanggal 10 Agustus. Mengetahui hal ini, saya sebagai seorang calon ayah sungguh bersemangat untuk melakukan pemilihan hari. Maka duduk lah saya berbekal 萬年歷, kalender sepuluh ribu tahun memulai pencarian kombinasi ba zi yang paling baik.

Sesuai aturan dunia kedokteran, maka pemilihan hari bisa dilakukan 14 hari kebelakang dari due date. Sehingga rentang waktu kelahiran bisa dikatakan antara 26 Juli sampai 10 Agustus. Saya memeriksa total sekitar 182 chart, semua kualitas si pemilik nya, sampai perjalanan luck nya. Sama sekali tidak ada yang memuaskan, tidak ada chart yang bahkan masuk ke level A. Maka saya pun mencoba memeriksa ke belakang hari tersebut, ternyata ada sebuah chart yang sangat baik, yang memuaskan saya. Namun hari nya telah mundur sampai ke 13 Juli. Berbeda 13 hari dari waktu minimum yang diizinkan oleh dokter kandungan.

Secara pribadi saya mengetahui bahwa permohonan untuk Cesar lebih awal dari jadwal ini pasti akan sulit untuk dikabulkan oleh dokter. Namun saya memutuskan untuk melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada sang dokter untuk mengetahui bagaimana pendapat beliau. Maka pada sesi kontrol berikut nya, saya pun ikut masuk ke ruangan konsultasi dokter kandungan yang sangat terkenal di Medan tersebut, Dr. **** merupakan seorang dokter muda yang memiliki tempat praktek bahkan rumah sakit bersalin nya sendiri. Pengalaman nya dalam melakukan proses kelahiran sudah tak dapat dihitung. Beliau adalah sosok ramah dan komunikatif, juga tentu adalah sosok intelek dalam berdiskusi.
Saya membuka pembicaraan, “Dok, istri saya telah menyampaikan bahwa dokter menentukan due date adalah di tanggal 10 Agustus. Dan saya sangat berterima kasih karena dokter memberikan kesempatan bagi saya untuk melakukan proses pemilihan hari baik.”

Sebagai dokter yang sering melakukan proses persalinan di kota Medan yang kental dengan budaya China nya, beliau mengerti sekali bahwa pada calon orang tua sering sekali mengehendaki pemilihan hari. Ini merupakan salah satu kelebihan beliau yang sangat fleksibel terlepas dari apakah ia percaya atau tidak.
“Namun dok, setelah melakukan seleksi pemilihan hari. Saya tidak menemukan hari baik dari rentang waktu 2 minggu tersebut. Ada satu hari yang saya ingin ajukan kepada dokter, mohon anda berikan pendapat objektif anda. Hari tersebut adalah tanggal 13 Juli.”

Mendengar hal tersebut, beliau memeriksa cacatan nya sejenak. Lalu menggelengkan kepala dan berkata, “Tanggal 13 tidak bisa. Bayi anda akan termasuk kedalam kategori undeveloped, belum berkembang. Saya tidak merekomendasikan hal tersebut. Tidak bisa.”

“Apakah ada yang bisa dokter lakukan agar hal ini bisa terjadi? Karena bagi saya pemilihan destiny ini sangat penting. Mohon agar dokter mepertimbangkan nya.” Saya menjawab dengan mimik kecewa.
Sang dokter menggelengkan kepala, “Saya memang bisa melakukan penyuntikan steroid agar sang janin bisa berkembang. Namun saya pribadi sangat tidak menyarankan hal tersebut. JIka anda memang bersikeras akan melakukan operasi kelahiran tersebut, maka saya butuh anda untuk menandatangani surat pernyataan, bahwa saya tidak bertanggung jawab akan apapun hasil operasi tersebut!”

Mendengar nada keras dan tegas ini, sebagai seorang ayah, mau tidak mau saya menjadi kawatir. JIka sampai sang dokter menekankan hal tersebut, bukankah hal ini berbahaya untuk diteruskan? Saya pun berkata, “Dokter, mumpung waktu nya masih ada, mohon anda berikan waktu bagi saya untuk berpikir lagi. Sambil kita pantau perkembangan sang jabang bayi.” Ketika itu kehamilan sudah memasuki bulan ke 7. Setelah itu, saya pun berpamitan dengan perasaan galau.
Hal pertama yang saya lakukan ketika sampai di rumah adalah, memeriksa kembali seluruh hari dan jam yang tersedia, siapa tahu ada chart bagus yang terselip. Banyak chart yang cukup bagus, namun bagaimanapun sebagai seorang professional maupun seorang ayah, saya tak bisa mengambil hari tersebut untuk dipakai. Dikarenakan hari yang tersedia memiliki satu atau dua flaw, yang akan membuat saya terbebani seumur hidup saat hal tersebut terjadi. Ada yang flaw nya terletak pada pernikahan yang cacat, ada yang flaw nya akan mengalami hal sulit di masa kecil, ada yang flaw nya tubuh nya lemah dan sebagai nya. Hal ini sama sekali tak dapat ditoleransi.

Di tengah kondisi galau tersebut, akhir nya saya memutuskan untuk menelpon Guru. Saya menceritakan dilemma saya, mengenai apakah harus mengikuti sang dokter dan mengambil ba zi kelas menengah saja, atau apakah tetap pada pendirian saya, dan menandatangani surat pernyataan tersebut.

Setelah mendengar cerita lengkap saya, Guru yang juga sangat exicted menantikan kelahiran anak kedua saya ini (cucu bagi beliau), hanya bertanya satu kalimat saja, “Drie, sekian lama kamu mengenal dan mempraktekkan Ba Zi. Apakah kamu meyakini keberadaan nya?”

Pertanyaan guru ini seperti cahaya terang yang menyibak kegelapan, seperti angin kencang yang menerjang kumpulan kabut dalam pikiran saya. Sebelum nya, sebagai seorang ayah, saya kawatir jika terjadi hal tak diinginkan pada anak saya yang akan dipaksa lahir belum pada waktu nya tersebut. Namun guru lewat pertanyaan nya, memberitahukan kepada saya, bahwa jika pada Ba Zi telah tertulis suatu hal, apakah pernah hal tersebut tidak terjadi? Sebalik nya jika tidak tertera pada BA Zi nya, apakah bisa pula hal yang saya kawatirkan terjadi? Hal ini mengacu kepada pemetaan yang akan terjadi pada moment kelahiran anak tersebut.

Pada sesi kontrol berikut nya, singkat kata saya telah duduk di depan sang dokter, sambil tersenyum sang dokter bertanya, “Bagaimana? Apakah anda telah memutuskan?”

Saya balik tersenyum dan bertanya, “Dok, jika boleh saya tahu, apa kekawatiran anda jika saya memaksakan kelahiran tanggal 13?”

Sang dokter menjawab, “Dikawatirkan paru-paru nya tidak berkembang dengan baik. Dari waktu kelahiran nya anda harus bersiap jika sang bayi harus masuk di incubator dan juga memakai berbagai alat Bantu lain nya.”

“Apakah hanya organ paru-paru yang anda kawatirkan?” Saya bertanya lagi.

“Ya hanya itu yang belum terbentuk dengan sempurna secara teori.” Sang dokter menjawab.

Mendengar hal ini, saya menjadi sangat lega, lalu menjawab, “Dok. Saya sebagai seorang ayah sangat berterima kasih dan menghargai pendapat anda. Namun pada sisi lain, saya juga sangat yakin akan kapabilitas saya sebagai seorang destiny reader. Anak yang dilahirkan pada tanggal dan jam pilihan saya, sama sekali tidak memiliki masalah pada organ paru-paru nya. Bahkan paru-paru nya sangat kuat.”

“Saya akan menandatangi surat pernyataan apapun yang anda ajukan, namun saya minta dokter berjanji kepada saya, untuk melakukan hal yang terbaik dalam mendukung proses persalinan ini agar berjalan dengan baik.” Sambil berbicara, saya menjulurkan jabat tangan saya kepada sang dokter.

Sang dokter cukup terjekut dengan keputusan saya, namun apda sisi lain beliau juga sangat tertarik akan kepercayaan diri saya, lalu menyambut jabat tangan saya, dan deal saya mendapatkan jadwal yang saya inginkan untuk kelahiran sang anak.

Singkat kata, proses operasi berjalan dengan lancar. Sang anak lahir, bukan saja dengan kondisi sehat, bahkan tangisan nya terdengar keras sampai keluar ruang operasi. Sang ibu juga selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Sebagai seorang ayah, tentu hal ini membuat saya bahagia, apalagi terbukti meskipun sang anak kurang matang, namun kondisi nya sangat sehat bahkan kuat. Bahkan in fact, semenjak kelahiran sang anak ini, berbagai bisnis dan karir pribadi saya diluar praktek metafisik (Yang tidak pernah saya anggap karir) naik kelas yang berimbas dari bertambah nya wealth secara significant.

Sebulan berikut nya, kami sekeluarga datang lagi ke tempat praktek sang dokter untuk menyampaikan terima kasih, dan sekaligus melakukan pembukaan jahitan bekas operasi cesar. Sang dokter pun bertanya kepada saya, “Bagaimana? Apakah si bayi sehat-sehat saja?”

“Sangat sehat dok, semua berkat keahlian dokter yang telah berkenan membantu kami.” Saya kemudian menambahkan sambil bercanda. “Namun juga berkat keahlian saya memilih waktu kelahiran.”

Sang dokter tertawa, dan mengacungkan jempol. “Sesungguh nya saya tidak percaya akan pemilihan hari seperti ini, karena tidak terbukti secara scientific. Bagaimana waktu kelahiran seseorang dapat menentukan kehidupan nya ke depan.”

Saya lalu menjawab, bahwa seperti semua ilmu pengetahuan, ilmu ba zi ini lebih kepada pengamatan dan pencatatan awal nya. Dari data yang begitu banyak, para leluhur menemukan sebuah pattern dan menciptakan rumus untuk menentukan destiny orang-orang yang lahir di masa depan. Sama seperti pengamatan cuaca, yang mengatakan jika awan berkumpul maka akan terjadi hujan. Demikian pula kehidupan seseorang dapat diprediksi berdasarkan waktu kelahiran nya.
Meski menerima, namun saya melihat ekspresi sang dokter masih separuh ragu. Maka saya pun iseng mengajukan tantangan. “Dok, saya lihat anda masih ragu akan penjelasan saya. Orang bilang, satu contoh akan lebih baik dari seratus penjelasan. Anda masih ingat ketika anda mengkawatirkan kelahiran anak saya akan mengalami penyakit atau kondisi paru-paru yang lemah? Bahkan meminta saya menandatangani surat pernyataan? Kenapa saya berani? Dikarenakan secara bazi, jika sang anak bisa lahir pada waktu tersebut, sama sekali tidak tertuliskan ia akan menderita penyakit yang berhubungan dengan paru-paru. Dan bukti nya anak tersebut sangat kuat, dan teriakan nya begitu nyaring sampai satu blok bisa mendengar.”

Sang dokter tersenyum, lalu menantang saya kembali. “Jika anda mengatakan bahwa kondisi fisik seseorang dapat diprediksi sesuai tanggal lahir. Saya memiliki sebuah contoh, seorang anak yang lahir beberapa hari sebelum nya. Silahkan anda periksa, bagaimana kondisi nya.”

Maka saya pun mem Plot chart sang bayi yang baru lahir tersebut. “Saya asumsikan bayi ini dilahirkan dengan cesar juga dok? Dan usia kandungan juga sudah matang ketika proses tersebut dilakukan?”

“Benar.” Jawab sang dokter. “Kondisi hasil scan normal, dan sudah matang ketika operasi dilakukan.”

Saya menatap mata sang dokter, lalu berkata, “Gagal jantung.”

Moment tersebut merupakan sebuah moment yang telah sering saya temukan dalam tahun tahun praktek saya, dan moment tersebut tak pernah membuat saya bosan. Ketika sang dokter terhenyak sejenak, pupil sedikit membelalak. “Bagaimana anda bisa tahu? Dari kelahiran nya anak ini telah masuk ICU sampai sekarang. Padahal secara scan dan lain sebagainya tidak terlihat ada sesuatu yang abnormal!”

Saya hanya tertawa, sambil bercanda kepada sang dokter, “Kalau begitu dokter harus buang semua mesin canggih nya, dan kursus kepada saya.” Lalu saya menambahkan, “Itulah hebat nya seni para leluhur kita ini.”

Kali ini sang dokter dengan antusiasme yang berbeda, bertanya kepada saya lagi, “Apakah anak ini bisa selamat?”
“Dok, pertanyaan ini saya tidak boleh jawab. Bukan karena saya tak bisa. Namun sebagai seorang dokter anda harus berbuat yang terbaik dan maksimal, jawaban saya sedikit banyak akan mempengaruhi objektivitas anda. Oleh karena itu, hal ini saya tak akan bahas. Berjanjilah apapun itu, lakukan yang terbaik sesuai dharma profesi anda. Jika ke depan nya anda memiliki kenalan yang ragu akan tanggal Cesar sang anak, silahkan hubungi saya. Namun setahun saya hanya memilih 3 orang anak saja, dikarenakan ini adalah komitmen saya sedari dulu, untuk tidak terlalu banyak menciptakan bazi-bazi kelas atas.”

Lalu kami pun berpamitan. Meninggalkan sang dokter kandungan yang masih geleng-geleng takjub. Sampai hari ini, terkadang saya masih mengobrol dengan sang dokter. Terkadang ia bertanya kepada saya, terkadang saya merekomendasikan pasien kepada beliau.

Jadi, kelahiran cesar dikatakan sah dalam konteks metafisik dan destiny. Namun secara pribadi juga saya tidak terlalu ingin melakukan pemilihan cesar ini, selain karena kerepotan menyeleksi nya, juga dikarenakan tidak ingin mengacaukan piramida system kasta masyarakat. Orang yang berdiri di puncak pyramid kehidupan, tidak boleh terlalu banyak.

Salam.

About

View all posts by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *